Selasa, 06 November 2012

MEMBERSIHKAN MULUT


Membersihkan Mulut
A. DEFINISI
Membersihkan rongga mulut, lidah dan gigi dari semua kotoran/sisa makanan dengan menggunakan kain kassa atau kapas yang dibasahi air bersih
B. TUJUAN
1. Mencegah timbulnya penyakit infeksi baik setempat maupun penularan melalui mulut
2. Menghindarkan bau mulut
3. Menghindarkan perasaan segar dan senang pada pasien
4. Melaksanakan kebersihan perorangan
5. Mempertinggi daya tahan tubuh
C. PERSIAPAN
1. Tongue spatel yang ujungnya dibalut dengan kain kassa
2. Lidi kapas/cotton bud
3. Kassa
4. 2 pinset anatomi
5. Kom kecil berisi larutan anti septik
6. 2 bengkok berisi larutan klorin
7. Perlak pengalas
8. Gelas plastik berisi air putih
D. PROSEDUR
1. Memberitahu pasien tindakan yang akan dilakukan
2. Mencuci tangan
3. Mengatur posisi pasien
4. Membentangkan handuk dan pengalas dibawah dagu klien
5. Meletakkan bengkok didekat pipi klien
6. Membuka mulut pasien, tangan kiri perawat/bidan menekan lidah pasien dengan tongue spatel
7. Mengambil kassa yang sudah diperas dalam larutan antiseptik dengan menggunakan pinset
8. Membersihkan rongga mulut dengan cara dari dalam keluar
9. Membersihkan gigi dan lidah
10. Membersihkan gigi dengan kassa/deppers
11. Mengeringkan bibir atau mumut klien dengan tissu
12. Mengatur posisi pasien kembali
13. Merapikan alat-alat
14. Mencuci tangan
Referensi :
Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC
Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.
Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.
JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.
JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.
Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.
Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.
Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

MEMANDIKAN



MEMANDIKAN PASIEN


A. DEFINISI
Membersihkan/memandikan tubuh klien dengan air bersih dan sabun pada klien yang tidak dapat mandi sendiri.

B. TUJUAN
1. Membersihkan kulit dan menghilangkan bau badan yang tidak sedap
2. Memberikan rasa nyaman dan relaksasi
3. Merangsang sirkulasi darah pada kulit
4. Mencegah infeksi pada kulit
5. Mendidik klien dalam kebersihan perorangan

C. PERSIAPAN
1. Baju klien
2. 2 waskom
3. 2 waslap
4. Selimut mandi
5. Sabun dan tempatnya
6. Perlak dan handuk kecil
7. 2 handuk sedang
8. Tempat pakaian kotor
9. Termos air panas
10. Sampiran
D. PROSEDUR
1. Memberitahu dan menjelaskan tindakan yang akan dilakukan
2. Mendekatkan alat
3. Memasang sampiran
4. Memindahkan selimut dan bantal dari tempat tidur
5. Mengatur posisi klien senyaman mungkin
6. Mencuci tangan
7. Memakai sarung tangan
8. Mengganti selimut klien dengan selimut mandi
9. Membuka pakaian bagian atas dan menutupnya dengan selimut mandi
10. Membasuh muka
a. Membentangkan handuk pengalas di bawah kepala
b. Membersihkan muka, telinga dan leher dengan waslap yang telah dibasahi air. Tanyakan apakah pasien mau pakai sabun muka atau tidak.
c. Gulung perlak dan handuk
11. Membasuh lengan
a. Menurunkan selimut mandi ke bagian perut klien.
b. Kedua tangan klien dikeataskan, pasang handuk besar diatas dada klien secara melintang, lebarkan ke kiri dan kanan, sehingga ke dua tangan klien dapat diletakkan diatas handuk.
c. Basahi tangan dan sabuni dengan waslap (dimulai dari tangan yang jauh dari petugas) dan membilas sampai bersih kemudian mengeringkan dengan handuk. Kemudian lakukan pada tangan yang satunya.
12. Membasuh dada dan perut
a. Menurunkan kain penutup sampai perut bagian bawah.
b. Kedua tangan klien dikeataskan, handuk diangkat dan dibentangkan pada sisi klien
c. Dada dan perut klien dibasahi dengan waslap basah, disabun kemudian dibilas dan dikeringkan
d. Mengambil handuk pengalas.
13. Membasuh punggung
a. Memiringkan klien ke kiri
b. Handuk dibentangkan dibawah punggung sampai bokong klien
c. Membasahi bagian punggung sampai bokong, menyabun kemudian dibilas dan dikeringkan.
d. Mengambil handuk pengalas dari bawah punggung klien
e. Klien diterlentangkan, pakaian bagian atas yang bersih dipakaikan dengan rapi.
14. Membasuh kaki
a. Mengeluarkan kaki yang terjauh dari petugas dikelurkan dari selimut mandi.
b. Membentangkan handuk dibawahnya serta menekuk lutut klien.
c. Membasahi kaki, memberi sabun dan membilas, kemudian mengeringkan dengan handuk.
d. Melakukan hal yang sama pada kaki yang satunya.
15. Membasuh daerah lipat paha dan genital
a. Membentangkan handuk dibawah bokong, selimut bagian bawah dibuka.
b. Basahi lipat paha dan genetalia, disabun dan dibilas lalu dikeringkan. Pada daerah genetalia sebaikknya menggunakan sabun khusus.
c. Angkat handuk dari bawah bokong klien, dan pakaikan pakaian bagian bawah klien.
16. Memasang selimut mandi klien diganti dengan selimut tidur serta bantal dikembalikan.
17. Pasien dirapikan kembali
18. Membereskan alat
19. Melepas sarung tangan
20. Mencuci tangan dan Mendokumentasikan tindakan.

Referensi :

Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC

Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.

Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.

Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.

JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.

JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.

Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.

Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.

Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

MELEPAS INFUS


MELEPAS INFUS

A. PERSIAPAN ALAT
1. Perlak dan pengalas
2. Sarung tangan
3. Kapas alkohol
4. Plester
5. Gunting plester
6. Bengkok
B. PROSEDUR
1. Memberitahu pasien tindakan yang akan dilakukan
2. Mendekatkan alat
3. Mencuci tangan
4. Memasang perlak dan pengalas
5. Memakai sarung tangan
6. Membasahi plester yang melekat pada kulit dengan kapas alkohol
7. Melepas plester dan kassa dari kulit
8. Menekan tempat tusukan dengan kapas alkohol dan mencabut infus pelan-pelan
9. Menekan kapas alkohol dengan plester
10. Membereskan alat dan merapikan pasien
11. Melepas sarung tangan
12. Mencuci tangan
13. Mendokumentasikan tindakan yang telah dilakukan
Referensi :
Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC
Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.
Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.
JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.
JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.
Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.
Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.
Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

MEMASANG INFUS


MEMASANG INFUS

A. TUJUAN
1. Sebagai pengobatan
2. Mencukupi kebutuhan tubuh akan cairan dan elektrolit
3. Sebagai makanan bagi pasien yang tidak dapat/tidak boleh makan melalui mulut
B. INDIKASI
Pasien dehidrasi, syok, itoksikasi berat, pra dan pasca bedah, sebelum tranfusi darah, pasien yang tidak bisa/tidak boleh makan/minum melalui mulut, pasien yang memerlukan pengobatan tertentu.
C. PERSIAPAN ALAT
1. Baki yang telah dialasi
2. Perlak dan pengalasnya
3. Handuk kecil
4. Bengkok
5. Tiang infus
6. Sarung tangan
7. Torniquet
8. Kapas alkohol
9. Cairan infus
10. Infus set
11. Abbocath
12. Plester/hepafik
13. Kassa steril
14. Gunting plester
15. Jam tangan
16. Buku catatan
17. Bengkok
D. PROSEDUR
1. Beritahu pasien tindakan yang akan dilakukan
2. Dekatkan alat
3. Pasang sampiran
4. Atur posisi pasien senyaman mungkin
5. Pasang perlak dan pengalas di bawah daerah yang akan dipasang infus
6. Cuci tangan
7. Pakai sarung tangan
8. Buka kemasan steril infus
9. Gantungkan cairan infus pada tiang infuse
10. Atur klem rol sekitar 2-4 cm dibawah bilik drip dan tutup klem yang ada pada saluran infus
11. Tusukkan pipas saluran infus ke dalam botol cairan dan tabung tetesan diisi setengah dengan cara memencet tabung tetesan infus.
12. Buka klem dan alirkan cairan keluar sehingga tidak ada udara pada slang infus lalu tutup kembali klem.
13. Cari dan pilih vena yang akan dipasang infus
14. Letakkan terniquet 10-12 cm diatas tempat yang akan ditusuk (bila pemasangan infus dilakukan pada daerah ekstremitas)
15. Desinfeksi daerah pemasangan secara sirkuler
16. Tusukkan jarum abbocath ke vena dengan lubang jarum menghadap ke atas (apabila berhasil darah akan keluar dan dapat dilihat pada pipa abbocath)
17. Dorong pelan-pelan abbocath masuk ke dalam vena sambil menarik pelan-pelan jarum abbocath sehingga semua plastik abbocath masuk semua ke dalam vena
18. Sambungkan segera abbocath dengan selang infus
19. Lepaskan terniquet dan longgarkan klem untuk melihat kelancaran tetesan
20. Bila tetesan sudah lancar, pangkal jarum direkatkan pada kulit dengan plester
21. Atur tetesan sesuai kebutuhan
22. Tutup tempat jarum atau tempat tusukan dengan kassa steril
23. Bereskan alat-alat dan rapikan pasien
24. Lepaskan sarung tangan
25. Cuci tangan
26. Dokumentasikan
Referensi :
Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC
Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.
Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.
JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.
JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.
Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.
Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.
Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

KEHILANGAN DUKA CITA



BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Lahir, kehilangan, dan kematian adalah kejadian yang unuiversal dan kejadian yang sifatnya unik bagi setiap individual dalam pengalaman hidup seseorang.
Kehilangan dan berduka merupakan istilah yang dalam pandangan umum berarti sesuatu kurang enak atau nyaman untuk dibicarakan. Hal ini dapat disebabkan karena kondisi ini lebih banyak melibatkan emosi dari yang bersangkutan atau disekitarnya.
Dalam perkembangan masyarakat dewasa ini, proses kehilangan dan berduka sedikit demi sedikit mulai maju. Dimana individu yang mengalami proses ini ada keinginan untuk mencari bentuan kepada orang lain.
Pandangan-pandangan tersebut dapat menjadi dasar bagi seorang perawat apabila menghadapi kondisi yang demikian.  Pemahaman dan persepsi diri tentang pandangan diperlukan dalam memberikan asuhan keperawatan yang komprehensif. Kurang memperhatikan perbedaan persepsi menjurus pada informasi yang salah, sehingga intervensi perawatan yang tidak tetap (Suseno, 2004).
Perawat berkerja sama dengan klien yang mengalami berbagai tipe kehilangan. Mekanisme koping mempengaruhi kemampuan seseorang untuk menghadapi dan menerima kehilangan. Perawat membantu klien untuk memahami dan menerima kehilangan dalam konteks kultur mereka sehingga kehidupan mereka dapat berlanjut. Dalam kultur Barat, ketika klien tidak berupaya melewati duka cita setelah mengalami kehilangan yang sangat besar artinya, maka akan terjadi masalah emosi, mental dan sosial yang serius.
Kehilangan dan kematian adalah realitas yang sering terjadi dalam lingkungan asuhan keperawatan. Sebagian besar perawat berinteraksi dengan klien dan keluarga yang mengalami kehilangan dan dukacita. Penting bagi perawat memahami kehilangan dan dukacita. Ketika merawat klien dan keluarga, parawat juga mengalami kehilangan pribadi ketika hubungan klien-kelurga-perawat berakhir karena perpindahan, pemulangan, penyembuhan atau kematian. Perasaan pribadi, nilai dan pengalaman pribadi mempengaruhi seberapa jauh perawat dapat mendukung klien dan keluarganya selama kehilangan dan kematian (Potter & Perry, 2005).




BAB II
PEMBAHASAN

2.1 Kehilangan
2.1.1 Definisi kehilangan
Kehilangan dan berduka merupakan bagian integral dari kehidupan. Kehilangan adalah suatu kondisi yang terputus atau terpisah atau memulai sesuatu tanpa hal yang berarti sejak kejadian tersebut. Kehilangan mungkin terjadi secara bertahap atau mendadak, bisa tanpa kekerasan atau traumatik, diantisispasi atau tidak diharapkan/diduga, sebagian atau total dan bisa kembali atau tidak dapat kembali.
Kehilangan adalah suatu keadaan individu yang berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada, kemudian menjadi tidak ada, baik terjadi sebagian atau keseluruhan (Lambert dan Lambert,1985,h.35). Kehilangan merupakan pengalaman yang pernah dialami oleh setiap individu dalam rentang kehidupannya. Sejak lahir individu sudah mengalami kehilangan dan cenderung akan mengalaminya kembali walaupun dalam bentuk yang berbeda.
Kehilangan merupakan suatu kondisi dimana seseorang mengalami suatu kekurangan atau tidak ada dari sesuatu yang dulunya pernah ada atau pernah dimiliki. Kehilangan merupakan suatu keadaan individu berpisah dengan sesuatu yang sebelumnya ada menjadi tidak ada, baik sebagian atau seluruhnya.
Faktor-faktor yang mempengaruhi reaksi kehilangan, tergantung:
1. Arti dari kehilangan
2. Sosial budaya
3. kepercayaan / spiritual
4. Peran seks
5. Status social ekonomi
6. kondisi fisik dan psikologi individu




Dampak kehilangan:
1. Pada masa anak-anak, kehilangan akan dapat mengancam kemampuan seseorang untuk berkembang, kadang kadang akan timbul regresi serta rasa takut untuk ditinggalkan atau dibiarkan kesepian
2. Pada masa remaja atau dewasa muda, kehilangan dapat menyebabkan disitegrasi dalam keluarga
3. Pada masa dewasa tengah, kehilangan khususnya kematian pasangan hidup, dapat menjadi pukulan yang sangat berat dan dapat menghilangkan semangat hidup orang yang ditinggalkan.

2.1.2 Tipe Kehilangan
Kehilangan dibagi dalam 2 tipe yaitu:
1. Aktual atau nyata
Mudah dikenal atau diidentifikasi oleh orang lain, misalnya amputasi, kematian orang yang sangat berarti / di cintai.
2. Persepsi
Hanya dialami oleh seseorang dan sulit untuk dapat dibuktikan, misalnya; seseorang yang berhenti bekerja / PHK, menyebabkan perasaan kemandirian dan kebebasannya menjadi menurun.

2.1.3 Jenis-jenis Kehilangan
Terdapat 5 katagori kehilangan, yaitu:
1. Kehilangan seseorang  seseorang yang dicintai
Kehilangan seseorang yang dicintai dan sangat bermakna atau orang yang berarti adalah salah satu yang paling membuat stress dan mengganggu dari tipe-tioe kehilangan, yang mana harus ditanggung oleh seseorang.
Kematian juga membawa dampak kehilangan bagi orang yang dicintai. Karena keintiman, intensitas dan ketergantungan dari ikatan atau jalinan yang ada, kematian pasangan suami/istri atau anak biasanya membawa dampak emosional yang luar biasa dan tidak dapat ditutupi.


2. Kehilangan yang ada pada diri sendiri (loss of self)
Bentuk lain dari kehilangan adalah kehilangan diri atau anggapan tentang mental seseorang. Anggapan ini meliputi perasaan terhadap keatraktifan, diri sendiri, kemampuan fisik dan mental, peran dalam kehidupan, dan dampaknya. Kehilangan dari aspek diri mungkin sementara atau menetap, sebagian atau komplit. Beberapa aspek lain yang dapat hilang dari seseorang misalnya kehilangan pendengaran, ingatan, usia muda, fungsi tubuh.
3. Kehilangan objek eksternal
Kehilangan objek eksternal misalnya kehilangan milik sendiri atau bersama-sama, perhiasan, uang atau pekerjaan. Kedalaman berduka yang dirasakan seseorang terhadap benda yang hilang tergantung pada arti dan kegunaan benda tersebut.
4. Kehilangan lingkungan yang sangat dikenal
Kehilangan diartikan dengan terpisahnya dari lingkungan yang sangat dikenal termasuk dari kehidupan latar belakang keluarga dalam waktu satu periode atau bergantian secara permanen. Misalnya pindah kekota lain, maka akan memiliki tetangga yang baru dan proses penyesuaian baru.
5. Kehilangan kehidupan/ meninggal
Seseorang dapat mengalami mati baik secara perasaan, pikiran dan respon pada kegiatan dan orang disekitarnya, sampai pada kematian yang sesungguhnya. Sebagian orang berespon berbeda tentang kematian.
2.1.4 Rentang Respon Kehilangan
Denial—–> Anger—–> Bergaining——> Depresi——> Acceptance
1) Fase denial
a) Reaksi pertama adalah syok, tidak mempercayai kenyataan
b) Verbalisasi;” itu tidak mungkin”, “ saya tidak percaya itu terjadi ”.
c) Perubahan fisik; letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernafasan, detak jantung cepat, menangis, gelisah.
2) Fase anger / marah
a) Mulai sadar akan kenyataan
b) Marah diproyeksikan pada orang lain
c) c. Reaksi fisik; muka merah, nadi cepat, gelisah, susah tidur, tangan mengepal.
d) d. Perilaku agresif
3) Fase bergaining / tawar- menawar.
a) Verbalisasi; “ kenapa harus terjadi pada saya ? “ kalau saja yang sakit bukan saya “ seandainya saya hati-hati “.
4) Fase depresi
a) Menunjukan sikap menarik diri, tidak mau bicara atau putus asa.
b) Gejala ; menolak makan, susah tidur, letih, dorongan libido menurun.
5) Fase acceptance
a) Pikiran pada objek yang hilang berkurang.
b) Verbalisasi ;” apa yang dapat saya lakukan agar saya cepat sembuh”, “ yah, akhirnya saya harus operasi “

2.2 Berduka
2.2.1  Definisi berduka
Berduka adalah respon emosi yang diekspresikan terhadap kehilangan yang dimanifestasikan adanya perasaan sedih, gelisah, cemas, sesak nafas, susah tidur, dan lain-lain.
Berduka merupakan respon normal pada semua kejadian kehilangan. NANDA merumuskan ada dua tipe dari berduka yaitu berduka diantisipasi dan berduka disfungsional.
Berduka diantisipasi adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu dalam merespon kehilangan yang aktual ataupun yang dirasakan seseorang, hubungan/kedekatan, objek atau ketidakmampuan fungsional sebelum terjadinya kehilangan. Tipe ini masih dalam batas normal.
Berduka disfungsional adalah suatu status yang merupakan pengalaman individu yang responnya dibesar-besarkan saat individu kehilangan secara aktual maupun potensial, hubungan, objek dan ketidakmampuan fungsional. Tipe ini kadang-kadang menjurus ke tipikal, abnormal, atau kesalahan/kekacauan.
2.2.2 Teori dari Proses Berduka
Tidak ada cara yang paling tepat dan cepat untuk menjalani proses berduka. Konsep dan teori berduka hanyalah alat yang hanya dapat digunakan untuk mengantisipasi kebutuhan emosional klien dan keluarganya dan juga rencana intervensi untuk membantu mereka memahami kesedihan mereka dan mengatasinya. Peran perawat adalah untuk mendapatkan gambaran tentang perilaku berduka, mengenali pengaruh berduka terhadap perilaku dan memberikan dukungan dalam bentuk empati.
1. Teori Engels
Menurut Engel (1964) proses berduka mempunyai beberapa fase yang dapat diaplokasikan pada seseorang yang sedang berduka maupun menjelang ajal.
Fase I (shock dan tidak percaya)
Seseorang menolak kenyataan atau kehilangan dan mungkin menarik diri, duduk malas, atau pergi tanpa tujuan. Reaksi secara fisik termasuk pingsan, diaporesis, mual, diare, detak jantung cepat, tidak bisa istirahat, insomnia dan kelelahan.
Fase II (berkembangnya kesadaran)
Seseoarang mulai merasakan kehilangan secara nyata/akut dan mungkin mengalami putus asa. Kemarahan, perasaan bersalah, frustasi, depresi, dan kekosongan jiwa tiba-tiba terjadi.
Fase III (restitusi)
Berusaha mencoba untuk sepakat/damai dengan perasaan yang hampa/kosong, karena kehilangan masih tetap tidak dapat menerima perhatian yang baru dari seseorang yang bertujuan untuk mengalihkan kehilangan seseorang.
Fase IV
Menekan seluruh perasaan yang negatif dan bermusuhan terhadap almarhum. Bisa merasa bersalah dan sangat menyesal tentang kurang perhatiannya di masa lalu terhadap almarhum.
Fase V
Kehilangan yang tak dapat dihindari harus mulai diketahui/disadari. Sehingga pada fase ini diharapkan seseorang sudah dapat menerima kondisinya. Kesadaran baru telah berkembang.
2. Teori Kubler-Ross
Kerangka kerja yang ditawarkan oleh Kubler-Ross (1969) adalah berorientasi pada perilaku dan menyangkut 5 tahap, yaitu sebagai berikut:
Penyangkalan (Denial)
Reksi pertama individu yang mengalami kehilangan adalah syok, tidak, mengerti, atau  mengingkari kenyataan bahwa kehilangan benar-benar terjadi. Sebagai contoh, orang tua keluaraga dari orang yang menerima diagnosis terminal akan terus berupaya mencari informasi tambahan.
Individu bertindak seperti seolah tidak terjadi apa-apa dan dapat menolak untuk mempercayai bahwa telah terjadi kehilangan. Pernyataan seperti “Tidak, tidak mungkin seperti itu,” atau “Tidak akan terjadi pada saya!” umum dilontarkan klien.
Reaksi fisik yang terjadi pada tahap ini adalah letih, lemah, pucat, mual, diare, gangguan pernapasan, detak jantung cepat, menangsis, gelisa, dan sering kali individu tidak tahu harus berbuat apa. Reaksi ini dapat berlangsung dalam beberapa menit hingga beberapa tahun.
Kemarahan (Anger)
Pada tahap Ini Individu Menolak Kehilangan . Kemarahan Yang Timbul Sering Diproyeksikan Kepada Orang Lain atau dirinya sendiri .Orang yang mengalami kehilangan juga tidak jarang menujukan perilaku agresif ,berbicara kasar,menyerang orang lain,menolak pengobatan, bahkan menuduh dokter atau perawat tidak kompeten. Respons fisik yang sering terjadi,antara lain muka merah,denyut nadi cepat,gelisah,susah  tidur,tangan mengepal,dan seterusnya.
Individu mempertahankan kehilangan dan mungkin “bertindak lebih” pada setiap orang dan segala sesuatu yang berhubungan dengan lingkungan. Pada fase ini orang akan lebih sensitif sehingga mudah sekali tersinggung dan marah. Hal ini merupakan koping individu untuk menutupi rasa kecewa dan merupakan menifestasi dari kecemasannya menghadapi kehilangan.
Penawaran (Bargaining)
Individu berupaya untuk membuat perjanjian dengan cara yang halus atau jelas untuk mencegah kehilangan. Pada tahap ini, klien sering kali mencari pendapat orang lain.
Pada tahap ini terjadi penundaan kesadaran atas kenyataan terjadinya kehilangan dan dapat dan mencoba untuk membuat kesepakatan secara halus atau teran-terangan seolah-olah kehilangan tesebut dapat di cegah. Indifidu  mungkinberupaya untuk melakukan  tawar-menawar dengan memohon kemurahan Tuhan.
Depresi (Depression)
Pada tahapan ini pasien sering menunjukkan sikap menarik diri,kadang-kadang bersikap sangat penurut,tidak mau bicara ,menyatakan keputusasaan,rasa tidak berharga ,bahkan bisa muncul keinginan bunuuh diri.Gejala fisik ysng di tujukan,antara lain menolak mankanan,susah  tidur letih,turunya dorongan  libido,dan lain-lain.
Terjadi ketika kehilangan disadari dan timbul dampak nyata dari makna kehilangan tersebut. Tahap depresi ini memberi kesempatan untuk berupaya melewati kehilangan dan mulai memecahkan masalah.
Penerimaan (Acceptance)
Tahap ini berkaitan  dengan reorganisasi persaan kehilangan. Pikiran yang selalu berpusat pada objek yang hilang akan mulai berkurang atau hilang. Individu  telah menerrima kenyataan kehilangan yang di alaminya dan mulai memandang ke depan. Gambaran tentang obyek atau orang  yang hilang akan mulai di lepaskan  secara tahap.perhatiannya akan beralih pada objek yang baru.Apabila individu dapat memulai tahap tersebut dan nenerima dengan prasaan damai ,maka dia dapat mengakiri proses berduka serta dapat mengatasi perasaan kehilangan secara tuntas.
Reaksi fisiologi menurun dan interaksi sosial berlanjut. Kubler-Ross mendefinisikan sikap penerimaan ada bila seseorang mampu menghadapi kenyataan dari pada hanya menyerah pada pengunduran diri atau berputus asa.
3. Teori Martocchio
Martocchio (1985) menggambarkan 5 fase kesedihan yang mempunyai lingkup yang tumpang tindih dan tidak dapat diharapkan. Durasi kesedihan bervariasi dan bergantung pada faktor yang mempengaruhi respon kesedihan itu sendiri. Reaksi yang terus menerus dari kesedihan biasanya reda dalam 6-12 bulan dan berduka yang mendalam mungkin berlanjut sampai 3-5 tahun.
4. Teori Rando
Rando (1993) mendefinisikan respon berduka menjadi 3 katagori:
Penghindaran
Pada tahap ini terjadi shock, menyangkal dan tidak percaya.
Konfrontasi
Pada tahap ini terjadi luapan emosi yang sangat tinggi ketika klien secara berulang-ulang melawan kehilangan mereka dan kedukaan mereka paling dalam dan dirasakan paling akut.
Akomodasi
Pada tahap ini terjadi secara bertahap penurunan kedukaan akut dan mulai memasuki kembali secara emosional dan sosial dunia sehari-hari dimana klien belajar untuk menjalani hidup dengan kehidupan mereka.



PERBANDINGAN EMPAT TEORI PROSES BERDUKA
ENGEL (1964) KUBLER-ROSS (1969) MARTOCCHIO (1985) RANDO (1991)
Shock dan tidak percaya Menyangkal Shock and disbelief Penghindaran
Berkembangnya  kesadaran Marah Yearning and protest
Restitusi Tawar-menawar Anguish, disorganization and despair Konfrontasi
Idealization Depresi Identification in bereavement
Reorganization / the out come Penerimaan Reorganization and restitution akomodasi

Worden (1982) menggarisbawahi empat tugas dukacita yang memudahkan penyesuaian yang sehat terhadap kehilangan, dan Harper (1987) merancang tugas dalam akronim “TEAR”:
1. T = untuk menerima realitas dari kehilangan
2. E = mengalami kepedihan akibat kehilangan
3. A = menyesuaikan lingkungan yang tidak lagi mencakup orang, benda, atau aspek diri yang hilang
4. R = memberdayakan kembali energi emosional kedalam hubungan yang baru
Tugas ini tidak terjadi dalam urutan yang khusus. Pada kenyataannya, orang yang berduka mungkin melewati keempat tugas tersebut secara bersamaan, atau hanya satu atau dua yang menjadi prioritas. Perawat dapat membantu klien dan keluarganya dalam memahami dan berupaya melewati tugas ini ketika tugas tersebut sesuai dengan situasi unik mereka.
Respon dukacita khusus:
Dukacita adaptif termasuk proses berkabung, koping, interaksi, perencanaan dan pengenalan psikososial. Hal ini dimulai dalam merespon terhadap kesadaran tentang suatu ancaman kehilangan yang berkaitan dengan masa lalu, saat ini, dan masa mendatang. Dukacita yang adaptif terjadi pada mereka yang menerima diagnosis yang menpunyai efek jangka panjang terhadap fungsi tubuh, seperti pada lupus eritomatosus sistemik. Klien mungkin merasa sangat sehat ketika didiagnosis tetapi mulai berduka dalam merespons informasi tentang kehilangan dimasa yang akan datang yang berkaitan dengan penyakit.
Dukacita terselubung terjadi ketika seseorang mengalami kehilangan yang tidak atau tidak dapat dikenali, rasa berkabung yang luas, atau didukung secara sosial. Dukacita mungkin terselubung dalam situasi dimana hubungan antara yang berduka dan meninggalkan tidak didasarkan pada ikatan keluarga yang dikenal. Dukacita ini dapat mencakup teman, pemberi perawatan dan rekan kerja atau hubungan non-tradisional.
Jenis duka cita:
1. Berduka normal, terdiri atas perasaan, perilaku, dan reaksi yang normal terhadap kehilangan. (misalnya, kesedihan, kemarahan, menangis, kesepian, dan menarik diri dari aktivitas untuk sementara
2. Berduka antisipatif, yaitu proses’melepas diri’ yang muncul sebelum kehilangan atau kematian yang sesungguhnya terjadi. Misalnya, ketika menerima diagnosis terminal, seseorang akan memulai  proses perpisahan dan menyelesaikan berbagai urusan dunia sebelum ajalnya tiba.
3. Berduka rumit, dialami oleh seseorang yang sulit untuk maju ketahap berikutnya, yaitu tahap berduka normal
4. Berduka tertutup, yaitu kedukaan akibat kehilangan yang tidak dapat diakui secara terbuka, contohnya kehilangan pasangan hidup karena AIDS, anak mengalami kematian orang tua tiri.













Rencana Tindakan keperawatan
TAHAP TINDAKAN KEPERAWATAN
Mengingkari Jelaskan proses berduka
Beri kesempatan kepada pasien untuk mengungkapkan perasaannya
Mendengarkan dengan penuh perhatian
Secara verbal dukung pasien,tapi jangan dukung pengingkaran yang dilakukan
Jangan bantah pengingkaran pasien,tetapi sampaikan fakta
Teknik komunikasi diam dan sentuhan
Perhatikan kebutuhan dasar pasien

Marah Dorong dan beri waktu kepada pasien untuk mengungkapkan kemarahan secara verbal tanpa melawan dengan kemarahan
Bantu pasien atau keluarga untuk mengerti bahwa marah adalah respon yang normal karena merasakan kehilangan dan ketidakberdayaan
Fasilitasi ungkapan kemarahan pasien dan keluarga
Hindari menarik diri dan dendam karena pasien /keluarga bukan marah pada perawat
Tangani kebutuhan pasien pada segala reaksi kemarahan nya.

Tawar-menawar Bantu pasien untuk mengidentifikasi rasa bersalah dan rasa takutnya
Dengarkan dengan penuh perhatian
Ajak pasien bicara untuk mengurangi rasa bersalah dan ketakutan yang tidak rasional
Berikan dukungan spiritual
Depresi Identifikasi tingkat depresi dan bantu mengurangi rasa bersalah
Berikan kesempatan kepada pasien untuk mengekspresikan kesedihannya
Beri  dukungan non verbal dengan cara duduk disamping pasien dan memegang tangan pasien
Hargai perasaan pasien
Bersama pasien bahas pikiran negatif yang sering timbul
Latih pasien dalam mengidentifikasi hal positif yang masih dimiliki


Penerimaan Sediakan waktu untuk mengunjungi pasien secara teratur
Bantu klien untuk berbagi rasa ,karena biasaanya tiap anggota tidak berada ditahap yang sama pada saat yang bersamaan.
Bantu pasien dalam mengidentifikasi rencana  kegiatan yang akan dilakukan setelah masa berkabung telah dilalui.
Jika keluarga mengikuti proses pemakaman,hal yang dapat dilakukan adalah ziarah (menerima kenyataan),melihat foto-foto proses pemakaman


DAFTAR PUSTAKA

http://nerseducation.blogspot.com/2012/02/konsep-kehilangan-duka-cita-penyakit.html
http://pastakyu.wordpress.com/2010/01/21/asuhan-keperawatan-kehilangan-dan-berdukahttp://bangeud.blogspot.com/2012/01/proses-keperawatan-jiwa.htmlhttp://mhapasaribu.blogspot.com/2012/07/askep-kehilangan-dan-berduka.html


KEBUTUHAN DASAR MANUSIA


KEBUTUHAN DASAR MANUSIA

Kebutuhan dasar manusia merupakan unsur-unsur yang dibutuhkan oleh manusia dalam mempertahankan keseimbangan fisiologi maupun psikologis.
A Faktor – faktor yang mempengaruhi kebutuhan dasar manusia
1. Penyakit.
Jika dalam keadaan sakit maka beberapa fungsi organ tubuh memerlukan pemenuhan kebutuhan lebih besar dari biasanya.
2. Hubungan keluarga.
Hubungan keluarga yang baik dapat meningkatkan pemenuhan kebutuhan dasar karena adanya saling percaya.
3. Konsep diri.
Konsep diri yang positif memberikan makna dan keutuhan bagi seseorang. Konsep diri yang sehat memberikan perasaan yang positif terhadap diri. Orang yang merasa positif tentang dirinya akan mudah berubah, mudah mengenali kebutuhan dan mengembangkan cara hidup yang sehat sehingga lebih mudah memenuhi kebutuhan dasarnya,
4. Tahap perkembangan.
Setiap tahap perkembangan manusia mempunyai kebutuhan yang berbeda, baik kebutuhan biologis, psikologis, sosial, maupun spiritual.
B Kebutuhan dasar manusia menurut Abraham Maslow
Abraham Maslow dilahirkan di Brooklyn, New York, pada tahun 1908 dan wafat pada tahun 1970 dalam usia 62 tahun. Abraham Maslow dikenal sebagai pelopor aliran psikologi humanistik. Maslow percaya bahwa manusia tergerak untuk memahami dan menerima dirinya sebisa mungkin. Teorinya yang sangat terkenal sampai dengan hari ini adalah teori tentang Hierarchy of Needs (Hirarki Kebutuhan).
Menurut Maslow, manusia termotivasi untuk memenuhi kebutuhan-kebutuhan hidupnya. Kebutuhan-kebutuhan tersebut memiliki tingkatan atau hirarki, mulai dari yang paling rendah (bersifat dasar/fisiologis) sampai yang paling tinggi (aktualisasi diri). Hierarchy of needs (hirarki kebutuhan) dari Maslow menyatakan bahwa manusia memiliki 5 macam kebutuhan yaitu physiological needs (kebutuhan fisiologis), safety and security needs (kebutuhan akan rasa aman), love and belonging needs (kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki), esteem needs (kebutuhan akan harga diri), dan, self-actualization (kebutuhan akan aktualisasi diri).
1. Kebutuhan fisiologis (Physiological)
Jenis kebutuhan ini berhubungan dengan pemenuhan kebutuhan dasar semua manusia seperti, makan, minum, menghirup udara, dan sebagainya. Termasuk juga kebutuhan untuk istirahat, buang air besar atau kecil, menghindari rasa sakit, dan seks. Jika kebutuhan dasar ini tidak terpenuhi, maka tubuh akan menjadi rentan terhadap penyakit, terasa lemah, tidak fit, sehingga proses untuk memenuhi kebutuhan selanjutnya dapat terhambat. Hal ini juga berlaku pada setiap jenis kebutuhan lainnya, yaitu jika terdapat kebutuhan yang tidak terpenuhi, maka akan sulit untuk memenuhi kebutuhan yang lebih tinggi.
2. Kebutuhan rasa aman dan perlindungan (Safety and security needs)
Ketika kebutuhan fisiologis seseorang telah terpenuhi secara layak, kebutuhan akan rasa aman mulai muncul. Keadaan aman, stabilitas, proteksi, dan keteraturan akan menjadi kebutuhan yang meningkat. Jika tidak terpenuhi, maka akan timbul rasa cemas dan takut sehingga dapat menghambat pemenuhan kebutuhan lainnya
3. Kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki (love and Belonging needs)
Ketika seseorang merasa bahwa kedua jenis kebutuhan di atas terpenuhi, maka akan mulai timbul kebutuhan akan rasa kasih sayang dan rasa memiliki. Hal ini dapat terlihat dalam usaha seseorang untuk mencari dan mendapatkan teman, kekasih, anak, atau bahkan keinginan untuk menjadi bagian dari suatu komunitas tertentu seperti tim sepakbola, klub peminatan, dan seterusnya. Jika tidak terpenuhi, maka perasaan kesepian akan timbul.
4. Kebutuhan akan harga diri (esteem needs)
Kemudian, setelah ketiga kebutuhan di atas terpenuhi, akan timbul kebutuhan akan harga diri. Menurut Maslow, terdapat dua jenis, yaitu lower one dan higher one. Lower one berkaitan dengan kebutuhan seperti status, atensi, dan reputasi. Sedangkan higher one berkaitan dengan kebutuhan akan kepercayaan diri, kompetensi, prestasi, kemandirian, dan kebebasan. Jika kebutuhan ini tidak terpenuhi, maka dapat timbul perasaan rendah diri dan inferior.
5. Kebutuhan aktualisasi diri (Self Actualization)
Kebutuhan terakhir menurut hirarki kebutuhan Maslow adalah kebutuhan akan aktualisasi diri. Jenis kebutuhan ini berkaitan erat dengan keinginan untuk mewujudkan dan mengembangkan potensi diri. Menurut Abraham Maslow, kepribadian bisa mencapai peringkat teratas ketika kebutuhan-kebutuhan primer ini banyak mengalami interaksi satu dengan yang lain, dan dengan aktualisasi diri seseorang akan bisa memanfaatkan faktor potensialnya secara sempurna.

Referensi :
Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC
Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.
Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.
Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.
JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.
JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.
Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.
Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.
Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.
Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC

ISTIRAHAT DAN TIDUR


ISTIRAHAT DAN TIDUR


Setiap manusia mempunyai kebutuhan dasar fisiologis untuk istirahat teratur. Jumlah kebutuhan istirahat bervariasi, bergantung pada kualitas tidur, status kesehatan, pola aktivitas, gaya hidup dan umur seseorang. Tekanan fisik dan emosi juga bisa meningkatkan kebutuhan istirahat klien. Istirahat dan tidur sering memberikan perasaan terlepas sementara dari tekanan.

A. ISTIRAHAT
1. Pengertian.
Istirahat bisa didefinisikan sebagai keadaan yang relaks tanpa adanya tekanan emosional dan bukan hanya dalam keadaan tidak beraktivitas tetapi juga berhenti sejenak untuk mendapatkan ketenangan.
2. Karakteristik
Menurut perry dan potter (1997) ada 6 karakteristik istirahat yaitu merasakan bahwa segala sesuatu bisa diatasi, merasa diterima, mengetahui apa yang sedang terjadi, bebas dari gangguan ketidaknyamanan, mempunyai sejumlah kepuasan terhadap aktivitas yang mempunyai tujuan, mengetahui adanya bantuan sewaktu memerlukan.

B. Tidur.
1. Pengertian
Menurut Guyton (1986), tidur merupakan suatu kondisi tidak sadar dimana individu dapat dibangunkan oleh stimulus atau sensori yang sesuai, atau juga dapat dikatakan sebagai suatu keadaan tidak sadarkan diri yang relatif, bukan hanya keadaan penuh ketenangan tanpa kegiatan tetapi lebih merupakan suatu urutan siklus yang berulang, dengan ciri adanya aktivitas yang minim, memiliki kesadaran yang bervariasi, terdapat perubahan proses fisiologis, dan terjadi penurunan respons terhadap rangsangan dari luar.
Tidur bermanfaat untuk menjaga keseimbangan mental, emosional dan kesehatan. Secara umum terdapat dua efek fisiologis tidur, pertama efek terhadap sistem saraf yang diperkirakan dapat memulihkan kepekaan normal dan keseimbangan di antara berbagai susunan saraf; kedua, efek pada struktur tubuh dengan memulihkan kesegaran dan fungsi organ dalam tubuh, mengingat terjadinya penurunan aktivitas organ-organ tubuh tersebut selama tidur.
2. Berdasarkan proses tidur terdapat dua jenis tidur yaitu :
a. Tidur gelombang lambat (slow wave sleep)/NREM (non rapid eye movement)/tidur nyenyak.
Ciri-ciri tidur nyenyak yaitu menyegarkan tanpa mimpi atau tidur dengan gelombang delta, keadaan istirahat penuh, tekanan darah menurun, pergerakkan bola mata melambat, mimpi berkurang serta metabolisme turun. Tahapan tidur jenis NREM:
1) Tahap I
Merupakan tahap transisi antara bangun dan tidur, ciri-cirinya yaitu rileks, masih sadar dengan lingkungan, merasa mengantuk, bola mata bergerak, frekuensi nadi dan napas menurun, yang berlangsung selama 5 menit.
2) Tahap II
Merupakan tahap tidur ringan dan proses tubuh terus menurun, ciri-cirinya yaitu mata pada umumnya menetap, denyut jantung dan frekuensi napas menurun, temperatur tubuh menurun, metabolisme menurun, berlangsung selama 10-15 menit.
3) Tahap III
Ciri-ciri tahap ini yaitu denyut nadi dan frekuensi napas dan proses tubuh lainnya lambat.
4) Tahap IV
Merupakan tahap tidur dalam, ciri-cirinya yaitu kecepatan jantung dan napas turun, jarang bergerak dan sulit dibangunkan, gerak bola mata cepat, skresi lambung dan tonus otot menurun.
b. Tidur paradoks/tidur REM (rapid eye movement)
Terjadi pada tidur malam selama 5-20 menit, rata-rata timbul 90 menit. Periode pertama terjadi 80-100 menit. Ciri tidur REM yaitu :
1) Biasanya disertai dengan mimpi aktif
2) Lebih sulit dibangunkan
3) Tonus otot tertekan, menunjukkan inhibisi kuat proyeksi spinal atas sistem pengaktivasi retikularis.
4) Frekuensi jantung dan pernapasan menjadi tidak teratur
5) Mata cepat tertutup dan terbuka, nadi cepat dan tidak teratur, tekanan darah meningkat atau berfluktuasi, skresi gaster meningkat dan metabolisme meningkat.
3. Kualitas dan kuantitas tidur dipengaruhi oleh beberapa faktor .
a. Stres psikologi
Seseorang yang memiliki masalah psikologis akan mengalami kegelisahan sehingga sulit untuk tidur.
b. Nutrisi
Terpenuhinya kebutuhan nutrisi yang cukup dapat mempercepat proses tidur. Sebaliknya kebutuhan nutrisi yang kurang akan menyebabkan sulit tidur.
c. Obat
Obat golongan diuretik dapat mempengaruhi proses tidur (insomnia), antidepresan dapat menekan REM, kafein dapat meningkatkan saraf simpatis yang menyebabkan kesulitan untuk tidur.
d. Aktivitas
Aktivitas yang tinggi membutuhkan lebih banyak tidur untuk menjaga keseimbangan energi yang telah dikeluarkan.
e. Penyakit
Seseorang yang sedang sakit dapat menjadikan orang itu kurang tidur atau bahkan tidak bisa tidur karena penyakitnya itu.
f. Lingkungan
Lingkungan yang nyaman dan aman dapat mempercepat proses tidur tetapi jika keadaan lingkungan tidak nyaman dapat menghilangkan keinginan untuk tidur.
g. Motivasi
Merupakan keinginan untuk tidur, jika ada keinginan untuk tidak tidur dapat menimbulkan gangguan proses tidur.
4. Ada beberapa gangguan atau masalah dalam kebutuhan tidur yaitu :
a. Insomnia
Ketidakmampuan mendapatkan tidur yang adekuat, baik kualitas maupun kuantitas. Proses gangguan tidur ini kemungkinan disebabkan adanya rasa khawatir atau tekanan jiwa.
b. Hipersomnia
Gangguan tidur dengan kriteria tidur berlebihan.
c. Parasomnia
Kumpulan beberapa penyakit yang dapat mengganggu pola tidur seperti somnambulis (berjalan-jalan dalam tidur) yang banyak terjadi pada anak-anak.
d. Enuresis
Gangguan tidur yang disebabkan oleh enuresis (mengompol), umumnya terjadi pada anak-anak.
e. Apnea tidur dan mendengkur
Mendengkur yang disertai dengan apnea dapat menjadi masalah dalam tidur karena jika terjadinya apnea dapat mengacaukan saat bernapas dan bahkan bisa menyebabkan henti napas, maka dapat menyebabkan kadar oksigen dalam darah menurun dan denyut nadi menjadi tidak teratur.
f. Narcolepsi
Keadaan tidur yang tidak dapat dikendalikan (mengantuk berat). Ini merupakan suatu gangguan neurologis
Referensi :

Bobak, K. Jensen, 2005, Perawatan Maternitas. Jakarta. EGC

Elly, Nurrachmah, 2001, Nutrisi dalam keperawatan, CV Sagung Seto, Jakarta.

Depkes RI. 2000. Keperawatan Dasar Ruangan Jakarta.

Engenderhealt. 2000. Infection Prevention, New York.

JHPIEGO, 2003. Panduan Pengajaran Asuhan Kebidanan, Buku 5 Asuhan Bayi Baru Lahir Jakarta. Pusdiknakes.

JNPK_KR.2004. Panduan Pencegahan Infeksi Untuk Fasilitas Pelayanan Kesehatan Dengan Sumber Daya Terbatas. Jakarta : Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prawiroharjo.

Johnson, Ruth, Taylor. 2005. Buku Ajar Praktek Kebidanan. Jakarta. EGC.

Kozier, Barbara, 2000, Fundamental of Nursing : Concepts, Prosess and Practice : Sixth edition, Menlo Park, Calofornia.

Potter, 2000, Perry Guide to Basic Skill and Prosedur Dasar, Edisi III, Alih bahasa Ester Monica, Penerbit buku kedokteran EGC.

Samba, Suharyati, 2005. Buku Ajar Praktik Kebidanan. Jakarta. EGC